Kurikulum 2013 : Raport / LHBS (LCK)

Penerapan Kurikulum 2013 sejauh ini berlangsung dengan relatif baik, hanya saja sampai saat ini yang masih menjadi hambatan adalah pada sistem penilaiannya. Banyak dari para guru yang masih kebingungan mengenai pendekatan pembelajaran terlebih sistem penilainnya, meskipun diantara mereka ada beberapa yang telah mengikuti diklat Kurikulum 2013.
Nah pada kesempatan ini, penulis ingin membantu para guru, khususnya wali kelas atau pengelola administrasi akademik sekolah (BAAK/BAS) dalam pembuatan produk hilir dari penilaian yakni Raport / Laporan Hasil Belajar Siswa (LHBS) atau Laporan Capaian Kompetensi (LCK) Peserta Didik versi Kurikulum 2013 sesuai dengan Permendikbud 81a Tahun 2013 dan SK Dirjen Dikmen tentang LCK.
Aplikasi ini dibuat dengan menggunakan Macro Excel sehingga Macro Excelnya harus diaktifkan atau securitynya diturunkan 1 level agar dapat berjalan dengan baik.
Sehubungan banyak yang menanyakan tentang Aplikasi ini apakah BERBAYAR ?, maka saya sampaikan bahwa Aplikasi ini 100% GRATIS untuk dipergunakan oleh seluruh sekolah baik jenjang SMP/SMA dan SMK sepanjang tidak digunakan untuk kepentingan Komersial. Dan jika berkenan mohon setelah melakukan download untuk posting Nama Sekolah pengguna untuk keperluan pendataan sekaligus melihat kebermanfaatan aplikasi ini.

1. Model Aplikasi Raport / LCK SMA dalam Excel Ver.1.1 Kurikulum 2013, Download di SINI
2. Model Aplikasi Raport / LCK SMA A4 dalam Excel Ver.1.2. Kurikulum 2013, Download di SINI
3. Model Aplikasi Raport / LCK SMA A4 Plus Mapel Insert dalam Excel Ver.1.3. Kurikulum 2013, Download di SINI
4. Model Aplikasi Raport / LCK SMA A4 Plus Mapel Insert dalam Excel Ver.1.4. Kurikulum 2013 (Terdapat Revisi Nilai Konversi Grade Rendah) , Download di SINI
5. Format Penilaian Guru Mata Pelajaran dalam Excel Ver.1.1. Untuk SMA Kurikulum 2013, Download di SINI
6. Model Aplikasi Raport / LCK SMP dalam Excel ver.1 Kurikulum 2013, Download di SINI
7. Model Aplikasi Raport / LCK SMP dalam Excel ver.1.2 Kurikulum 2013, Download di SINI
8. Model Aplikasi Raport / LCK SMP dalam Excel ver.1.3 Kurikulum 2013 (Terdapat Revisi Nilai Konversi Grade Rendah), Download di SINI
9. Model Aplikasi Raport / LCK SMP dalam Excel ver.1.5 Kurikulum 2013 (Penambahan 2 Opsi Mulok), Download di SINI
10. Model Aplikasi Raport / LCK SMK F4 dalam Excel Ver.1 Kurikulum 2013, Download di SINI
11. Model Aplikasi Raport / LCK SMK F4 dalam Excel Ver.1.2 Kurikulum 2013 (Terdapat Revisi Nilai Konversi Grade Rendah), Download di SINI

Untuk Proses Pembelajaran dan Penilaian Lainnya akan segera saya Postingkan dalam waktu dekat (moga ada waktu dan kesempatan yang cukup). :)

Implikasi Hilangnya TIK - KKPI di Kurikulum 2013

Dalam kegiatan Sosialisasi Kurikulum 2013 yang dilanjutkan dengan Workshop Implikasi Kurikulum 2013 yang diadakan di Balikpapan pada tanggal 1 hingga 5 Maret 2013, semakin tergambar jelas bahwa Mata Pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) untuk SD, SMP dan SMA serta Mata Pelajaran KKPI (Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi) untuk SMK di pastikan akan hilang dalam Kurikulum 2013.
Beberapa alasan yang terungkap mengapa TIK/KKPI hilang dari Kurikulum 2013 ketika dialog dengan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (WAMEN) bidang Pendidikan dan Perwakilan PUSKUR (Pusat Kurikulum dan Perbukuan) diantaranya :
1. "Anak TK dan SD saja sudah bisa internetan…"
2. TIK / KKPI bisa integratif (terintegrasi) dengan mata pelajaran lain
3. Pembelajaran sudah seharusnya berbasis TIK (alat bantu guru dalam mengajar), bukan TIK/KKPI sebagai Mata Pelajaran khusus yang harus diajarkan
4. Jika TIK/KKPI masuk struktur kurikulum nasional maka pemerintah berkewajiban menyediakan Laboratorium Komputer untuk seluruh sekolah di Indonesia, dan pemerintah tidak sanggup untuk mengadakannya
5. Banyak sekolah yang belum teraliri LISTRIK, jadi TIK/KKPI tidak akan bisa diajarkan juga disekolah
Secara normatif alasan-alasan tersebut bisa saja diterima, namun tahukah anda dialog yang terjadi diluar forum resmi tersebut, semua alasan tersebut dapat terbantahkan oleh teman-teman dalam dialog “liar” yang diadakan setelah selesai kegiatan tersebut.
Jika alasannya karena “Anak TK / SD sudah bisa main game dikomputer dan berinternet ria”, maka jika ada yang berpendapat Anak TK/SD pun sudah bisa berbahasa Indonesia karena mereka adalah orang Indonesia, jadi tidak perlu lagi ada Pelajaran Bahasa Indonesia di TK/SD atau tidak perlu lagi ada pelajaran Olahraga karena cukup kasih bola atau buatkan selorotan maka anak sudah berolah raga.
Darimana anak TK/SD bisa main game dan berinternetan ? Bagaimana cara memanfaatkan TIK dengan baik dan benar ? Bagaimana etika penggunaan TIK dst… sulit bahkan tidak bisa didapatkan mereka dengan autodidak.
Pembelajaran abad 21 yang mengarah ke Literacy Informasi mempersyaratkan untuk berbasiskan ICT/TIK, TIK sebagai alat bantu guru dalam mengajar dengan TIK sebagai sebuah mata pelajaran adalah dua hal yang berbeda. Ketika TIK/KKPI bukan lagi sebagai mata pelajaran maka pekerjaan guru akan bertambah, misalnya saja ketika guru bahasa Indonesia memberi tugas kepada siswa untuk membuat laporan deskriptif, disamping mengajarkan teori/materinya tentang bentuk – bentuk laporan deskriptif, guru juga harus mengajarkan bagaimana cara mengetik dan membuat laporan tersebut dikomputer, Inilah yang disebut integratif. Sekarang bagaimana kalau logikanya dibalik, Guru TIK mengajarkan anak-anak cara mengetik di Pengolah Kata (Word misalnya) dan sebagai bahannya bisa berupa laporan deskriptif yang dicari siswa di internet. Singkat kata pelajaran bahasa Indonesia secara keilmuwan juga tidak diperlukan lagi.
Jika TIK/KKPI dianggap akan memberatkan pemerintah karena implikasinya pemerintah harus menyediakan sarana dan prasarananya maka terkesan pemerintah ingin lepas dari tanggungjawab karena kemanakah anggaran pendidikan yang 20% itu. Padahal jiga logikanya dibalik, karena adanya matapelajaran TIK beberapa tahun terakhir sebagai stimulus bahkan membawa revolusi didalam dunia pendidikan dan pembelajaran, maka TIK akan tetap dipertahankan dan pemerintah akan menganggarkannya, terlebih TIK menjadi persyaratan pergaulan di abad 21 ini, sehinga untuk mengejar ketertinggalan TIK akan dikedepankan tidak hanya sebagai media pembelajaran tetapi sebagai mata pelajaran seperti tercantum dalam Peraturan Pemerintah No 19.
Dengan adanya TIK sebagai mata pelajaran maka pemerintah secara tidak langsung akan dipaksa untuk membangun infrastruktur listrik dan mengalirkannya hingga pedesaan. Dengan demikian Indonesia akan maju semakin pesat.
Tahukah anda alasan sesungguhnya dibalik RAIBnya TIK dari Kurikulum 2013 ??? Kami mencoba menelusuri Draft Kurikulum 2013 versi terkini (Maret 2013), salah satunya adalah terdapat mata pelajaran prakarya dan lintas peminatan. Ada tambahan beban belajar bagi siswa dan hal tersebut berakibat harus ada matapelajaran yang dihilangkan.
Satu-satunya mata pelajaran yang tingkat resistensinya paling rendah jika harus dihilangkan adalah “TIK/KKPI”, Mengapa ? TIK/KKPI adalah mata pelajaran paling muda dalam struktur kurikulum 2006, sehingga jika “dibunuh” dampaknya tidak akan terlalu besar (kalau yang dihilangkan sejarah/olahraga/lainnya tentu tidak akan berani) mengingat jumlah guru TIK/KKPI murni hanya berkisar 15%, sedangkan 85% sisanya akan dikembalikan ke mata pelajaran induk. Namun terfikirkankah mengapa guru Fisika mengajar mata pelajaran TIK, mungkin sebagian karena tidak adanya guru TIK, namun tidak sedikit pula dikarenakan gurunya berlebih sehingga jika harus balik ke mata pelajaran induk akan menjadi masalah baru. Meskipun akan ada revisi terhadap PP 74 mengenai beban kerja guru, tapi kita tidak tau seperti apakah revisinya.
Disisi lain, hilangnya TIK/KKPI dari kurikulum 2013 tidak hanya akan “membunuh” secara perlahan mata pelajaran TIK (kelas 8,9,11,12 masih ada TIK), akan tetapi akan “membunuh” calon-calon guru TIK yang saat ini sedang dididik di berbagai LPTK(Perguruan Tinggi) seperti di FKIP Universitas Mulawarman yang saat ini membuka Jurusan tersebut. Calon-calon guru TIK ini belum sempat dilahirkan oleh LPTK sudah terancam akan “di aborsi” masal.
Dalam Kurikulum 2013 khususnya di SMA/SMK terdapat peminatan IPA, IPS, Bahasa. Mengapa tidak diberikan peluang ada peminatan TIK, karena tidak sedikit siswa yang ketika lulus dari SMA/SMK langsung bekerja di bidang yang memerlukan penguasaan TIK, dan tidak sedikit pula yang melanjutkan ke perguruan tinggi dengan mengambil jurusan komputer dan informatika atau sejenisnya.
Saat ini belum saatnya mapel TIK/KKPI hilang, paling tidak untuk tingkat SMA/MA/SMK, Bagaimana menurut Anda???

Guru dan Kurikulum 2013

Ada empat aspek yang harus diberi perhatian khusus dalam rencana implementasi dan keterlaksanaan kurikulum 2013. Apa saja? Pertama, kompetensi guru dalam pemahaman substansi bahan ajar (baca: kompetensi pedagogi/akademik). Didalamnya terkait dengan metodologi pembelajaran, yang nilainya pada pelaksanaan uji kompetensi guru (UKG) baru mencapai rata-ratanya 44,46.
Categories: 

Kurikulum 2013, Mata Pelajaran Dikembangkan Berdasarkan Kompetensi

Perubahan kurikulum adalah pekerjaan besar. Berubahnya kurikulum akan merubah empat aspek yang terkait di dalamnya, yaitu standar isi, standar proses, standar kelulusan, dan standar penilaian. Setelah berubah pun, kurikulum bukanlah hanya sebagai pajangan, tap harus diterjemahkan lagi dalam buku pengantar pelajaran yang akan disampaikan ke siswa. Tentang standar lulusan, perubahan akan tergambar dari soft skill dan hard skill yang diterjemahkan sebagai kompetensi para lulusan.

Categories: 

THEORY OF TEACHING AND TEACHER’S ROLE

A. PENDAHULUAN

John Dewey, seorang Filsuf Amerika, dan mungkin dia juga adalah seorang pendidik yang paling berpengaruh pada abad ke-20, pernah menulis, " Since growth is the characteristic of life, education is all one with growing; it has no end beyond itself. The criterion of the value of school education is the extent in which it creates a desire for continued growth and supplies means for making the desire effective in fact." (Democracy and Education)

Pendidikan pada dasarnya adalah sebuah proses menciptakan pembelajar seumur hidup melalui pengembangan peserta didik dalam memotivasi keinginan terus untuk belajar. Ini berarti bahwa setiap individu melibatkan dirinya dalam pembelajaran siswa aktif melalui motivasi intrinsik mereka sendiri, untuk dapat tumbuh dan berkembang untuk dirinya sendiri dan lingkungannya.

Proses pembelajaran merupakan tahapan-tahapan yang dilalui dalam mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik seseorang, dalam hal ini adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa atau peserta didik. Salah satu peran yang dimiliki oleh seorang guru untuk melalui tahap-tahap ini adalah sebagai fasilitator. Untuk menjadi fasilitator yang baik guru harus berupaya dengan optimal mempersiapkan rancangan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak didik, demi mencapai tujuan pembelajaran.

B. TEORI BELAJAR

Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu kita semua memahami proses inhern yang kompleks dari belajar. Ada tiga perspektif utama dalam teori belajar, yaitu Behaviorisme, Kognitivisme, dan Konstruktivisme. Namun hal ini tidak perlu kita perdebatkan, yang lebih penting untuk kita pahami adalah teori mana yang baik untuk diterapkan pada kawasan tertentu, dan teori mana yang sesuai untuk kawasan lainnya. Pemahaman semacam ini penting untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

 a. Behaviorisme

Behaviorisme dari kata behave yang berarti berperilaku dan isme berarti aliran. Behavorisme merupakan pendekatan dalam psikologi yang didasarkan atas proposisi (gagasan awal) bahwa perilaku dapat dipelajari dan dijelaskan secara ilmiah. Dalam melakukan penelitian, behavioris tidak mempelajari keadaan mental. Jadi, karakteristik esensial dari pendekatan behaviorisme terhadap belajar adalah pemahaman terhadap kejadian-kejadian di lingkungan untuk memprediksi perilaku seseorang, bukan pikiran, perasaan, ataupun kejadian internal lain dalam diri orang tersebut. Fokus behaviorisme adalah respons terhadap berbagai tipe stimulus.

Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman (Gage, Berliner, 1984) Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.

Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus dapat diamati dan diukur.

Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka responpun akan semakin kuat.

Para tokoh yang memberikan pengaruh kuat pada aliran ini adalah Ivan Pavlov dengan teorinya yang disebut classical conditioning, John B. Watson yang dijuluki behavioris S-R (Stimulus-Respons), Edward Thorndike (dengan teorinya Law of Efect), dan B.F. Skinner dengan teorinya yang disebut operant conditioning.

Categories: 

Guru dan Ramalan McKinsey

Dari dua minggu terakhir September 2012 hingga minggu pertama Oktober 2012, ramalan McKinsey & Co banyak menghiasi media massa di tanah air. Maklumlah, dalam laporannya bertajuk The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia's Potential, McKinsey menyebutkan pada tahun 2030 ekonomi Indonesia akan menempati posisi ke-7 Ekonomi Dunia mengalahkan Jerman dan Inggris.

Categories: 

Pages